Yoga Setiawan S. – Kategori Sosial dan Ekonomi

MACET. Adalah hal yang sudah tak asing lagi di telinga dan mata kita, khususnya sebagai mahasiswa IPB yang ada di lingkungan kampus. Kemacetan adalah pemandangan yang sudah sangat biasa yang ada di depan mata kita. Tak hanya kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Medan dan Surabaya, Bogor kemacetan di Bogor pun bisa dibilang cukup parah. Ribuan kendaraan bermotor berdesak-desakan setiap hari. Tak hanya tersendat-sendat, bahkan kendaraan berhenti total.

Pada kesempatan kali ini penulis hanya melihat kemacetan di kabupaten kota bogor, khususnya IPB, Dramaga. Khusus wilayah ini, kemacetan bukan disebabkan oleh karena adanya kecelakaan lalu lintas, banjir, longsor maupun perbaikan jalan, kemacetan di sini disebabkan karena tidak seimbangnya jumlah pengguna jalan dengan luas atau lebar jalan.

Berbagai Dampak Kemacetan 
Dampak kemacetan ini tidak hanya
dirasakan oleh masyarakat sekitar jalan raya, tetapi tentu juga pengguna jalan. Polusi, baik itu polusi udara maupun polusi suara ikut berkontribusi didalamnya. Bisa dibayangkan apa yang terjadi jika hal ini terus-menerus terjadi. Penyakit pernafasan, kanker dan kelainan-kelainan lain akibat pencemaran logam pun bisa terjadi. Jika kendaraan dinyalakan dalam keadaan diam/tidak bergerak, kendaraan akan mengeluarkan gas-gas beracun akibat pembakaran yang tidak sempurna, apalagi kemacetan yang sangat padat, pasti akan menimbulkan akumulasi gas-gas beracun yang dihasilkan. Keadaan ini akan memicu penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut), memicu kanker otak, menuruknan fungsi otak, bahkan kematian. 

Jika ditinjau dari sisi lain, banyak sekali dampak yang yang bisa dilihat dari nilai nominal, yaitu kerugian para petani di sekitar dan atau yang melewati jalan tersebut. Berbagai dampak yang pasti akan dirasakan oleh mereka diantaranya kerugian waktu dan biaya.
Kerugian waktu
Kemacetan mengakibatkan waktu tempuh perjalanan menjadi lebih lama, sehingga banyak waktu yang hilang selama diperjalanan.Jarak yang sama jika dalam keadaan normal bisa ditempuh dalam 1 jam, karena kemacetan menjadi 2 jam, bahkan 4 jam. Masyarakat telah kehilangan waktu 1 jam diperjalanan.
Bagi masyarakat yang berprofesi sebagai pengusaha atau pedagang mengalami kehilangan kesempatan. kerugian ini secara nominal bisa sangat besar, bahkan bagi beberapa orang yang profesional bisa bernilai milyaran rupiah.
Bagi masyarakat yang berperan sebagai orang tua, mengalami kehilangan waktu untuk mendidik anaknya. Masalah ini tanpa disadari adalah kerugian negara yang terbesar, karena kerugian ini tidak bisa dinilai dengan uang.Masa depan bangsa Indonesia berada di tangan generasi penerus yang dididik oleh orang tua dengan waktu sedikit. Pendidikan orang tua secara langsung adalah pondasi bagi anak-anak di masa depannya. Bagi pelajar/mahasiswa, kehilangan waktu untuk berkarya dan belajar.
Bagi supir, kehilangan produktifitasnya yang berimbas kepada pendapatannya. Dan berbagai profesi elemen masyarakat lainnya. Jika rata waktu hilang oleh kemacetan untuk berangkat kerja 1 jam dan pulang kerja 1 jam, maka setiap harinya setiap orang kehilangan 2 jam.
Bagi petani, kehilangan waktu satu jam di jalan adalah hal yang sangat merugikan. Satu jam terlambat maka akan berkurang pendapatan / penjualan mereka di pasar nanti. Mereka akan kalah bersaing dengan yang lainnya karena kalah start. Akibatnya, kerugian berlipat ganda. Selain itu, panas akibat akumulasi kendaraan bermotor menyebabkan sayur atau buah menjadi layu. Jika jumlahnya sedikit itu tidak masalah, tetepi bagaimana jika semua sayur dan buah yang dipanen menjadi layu. Pasar tidak akan menerima sayur dan buah yang layu, itu berarti kerugian ada di depan mata.
Jatuhnya Harga Produk Karena  Polutan
Bagi masyarakat biasa, mutu tak menjadi masalah, asalkan harga murah. Tapi hal itu berbeda jika pembeli adalah pasar-pasar modern seperti supermarket-supermarket besar. Mutu menjadi prioritas utama. Kebersihan adalah standar yang wajib dipenuhi bagi mereka. Jangankan polutan seperti itu, insektisida yang sedikit pun akan berdampak sangat buruk. Maka dari itu, banyaknya polutan yang ikut menempek di kuli-kulit buah maupun sayur bisa jadi mengurangi harga bahkan tidak dihargai sama sekali.
Pertanian sehat juga menjadi perbincangan dunia saat ini, jika kita tidak bisa secara bijak mengikuti aturan main dunia ini, maka kita akan mengalami kerugian yang sangat besar. Dunia sedang gencar-gencarnya menginginkan produk sehat. Bisa dibayangkan bagaimana jika petani yang mengalami hal ini, banyak sekali kerugian yang akan di derita akibat satu hal ini. Kemacetan.
Rendahnya Produktifitas, Karena Lelah di Perjalanan
Semakin lama seseorang duduk di kendaraan selama perjalanan akan membuat orang menjadi lelah, baik sebagai penumpang apalagi pengemudinya. Energi menjadi banyak yang hilang selama diperjalanan, yang berimbas kepada produktifitas. Nominal kerugiannya adalah jumlah produktifitas yang hilang dari setiap orang dikalikan jumlah masyarakat Bogor yang beraktifitas setiap harinya. Selain kerugian-kerugian secara langsung di atas, masih banyak lagi kerugian tak langsung yang diakibatkan oleh kemacetan di Bogor. Semua itu adalah kerugian yang sudah ditanggung oleh negara dan masyarakat selama ini dan akan menjadi seterusnya jika masalah kemacetan di Bogor tidak juga diselesaikan oleh pemerintah terutama pemerintah daerah dan jajaran lain yang terkait.
Produktifitas sangat berhubungan erat dengan pemasukan yang akan diambil oleh orang tersebut. Jika orang tersebut tidak produktif, maka sama sekali tidak akan menghasilkan apa-apa, atau mengangur. Berarti akan menimbulkan efek yang sangat besar. Selain berimbas hanya pada keluarga, juga berdampak pada kerugian secara nasional. Pendapatan nasional dari sektor pertanian juga menurun. Dan sudah tentu akan mengakibatkan kerugian pada petani
Mahalnya Transportasi Berakibat Tingginya Harga Jual Barang
Dengan bertambah lamanya waktu tempuh mengakibatkan utilisasi kendaraan angkutan yang rendah, produktifitas tenaga supir yang rendah, pemakaian bahan bakar yang tinggi dan semakin pendeknya usia pakai komponen kendaraan bermotor. Semua komponen harga itu dimasukkan ke dalam ongkos angkut dan dibebankan kepada konsumen ke dalam harga barang. Harga barang yang seharusnya bisa lebih murah, menjadi lebih mahal. Semua ini akibat dari kemacetan.
Persaingan di pasar tidak hanya dari kualitas, tetapi juga harga. Barang-barang buatan China lebih digemari karena mereka menang harga. Dengan kualitas yang sama, bahkan lebih rendah, tetapi harga jauh lebih murah, akan mengakibatkan jatuhnya permintaan pasar akan barang kita.
Karena itulah peranan pemerintah untuk membantu menyelesaikan masalah ini sesuai dengan tujuan pertanian yang berkelanjutan.
Daftar Pustaka / Daftar Link
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/perekonomian_indonesia/bab8-masalah-pokok-perekonomian_indonesia.pdf
http://elibrary.mb.ipb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=mbipb-12312421421421412-timotiusch-722
http://e-material.perpustakaan.ipb.ac.id/skripsi/2000/A/A00dro.pdf
http://jakartadamai.blogspot.com/2009/05/kerugian-akibat-kemacetan-di-jakarta.html
http://iirc.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/8638/2/2006aso.pdf
Http://iirc.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/9199/1/Gustini_Syahbirin%20_Residu_pestisida.pdf
Daftar Gambar
http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:78tmW7h6av5aFM::suardi.files.wordpress.com/2008/05/image163.jpg&t=1&h=194&w=259&usg=__iE1SXjiengvtgrd7dy-zekJI4S8=
http://dulingsanmarsby.files.wordpress.com/2010/01/polusi-udara.jpg
http://www.cherrygal.com/images/ChineseCabbage.jpg

Yoga Setiawan on Dampak Kemacetan Terhadap Petani Sayur