SOLUSI PERMASALAHAN PANGAN, PAKAN, ENERGI DAN LINGKUNGAN DENGAN PEMANFAATAN LAHAN GAMBUT SEBAGAI PERKEBUNAN SAGU (Metroxylon spp.)

Yoga Setiawan Santoso

 ———————————————————————————————————————————–

            Gambut adalah material atau bahan organik yang tertimbun secara alami dalam keadaan basah yang berlebihan, bersifat tidak mampat dan tidak atau hanya sedikit mengalami perombakan (Noor, 2001 dalam Bintoro et al., 2010). Gambut merupakan sumberdaya alam yang tidak dapat dipulihkan, sehingga harus dimanfaatkan secara bijaksana. Pengubahan struktur alami lahan gambut seperti pengalihfungsian menjadi lahan pertanian dapat merusak lingkungan dan menurunkan tinggi permukaan gambut.

Bintoro et al. (2010) menjelaskan Indonesia merupakan negara keempat terbesar di dunia yang memiliki lahan gambut setelah Kanada, Uni Soviet, dan Amerika Serikat dengan penyebaran seperti yang tercantum dalam tabel di bawah ini.

Tabel 1. Penyebaran dan Luas Lahan Gambut di Indonesia Menurut Provinsi (Soekardi dan Hidayat, 1988 dalam Bintoro et al., 2010)

No.

Provinsi

Luas (ribu ha)

Luas (%)

1

Jawa Barat

25

<     0.1

2

Aceh

270

1.5

3

Sumatra Utara

335

1.8

4

Sumatra Barat

31

<     0.1

5

Riau

1704

9.2

6

Jambi

900

4.9

7

Sumatra Selatan

990

5.4

8

Bengkulu

22

<     0.1

9

Lampung

24

<     0.1

10

Kalimantan Barat

4610

24.9

11

Kalimantan Tengah

2162

11.7

12

Kalimantan Selatan

1484

8.0

13

Kalimantan Timur

1053

5.7

14

Sulawesi Tengah

15

<     0.1

15

Sulawesi Selatan

1

<     0.1

16

Sulawesi Tenggara

18

<     0.1

17

Kepulauan Maluku

20

<     0.1

18

Papua

4600

24.9

Jumlah

18,480

100.0

Data di atas menunjukkan bahwa total luas lahan gambut di Indonesia adalah sebesar 18.48 juta ha dengan sebaran terbesar terdapat pada provinsi Kalimantan Barat dan Papua, yaitu 4.6 juta ha atau 24.9 % dari total luas lahan gambut Indonesia; sedangkan provinsi dengan total luas lahan gambut paling kecil (bukan nol) adalah provinsi Sulawesi Selatan, yaitu seribu hektar atau kurang dari 0.1 % dari total luas lahan gambut Indonesia.

 

Pemanfaatan Lahan Gambut sebagai Lahan Pertanian

            Sebagian besar lahan gambut secara umum tidak sesuai untuk budidaya pertanian. Bintoro et al. (2010) menjelaskan bahwa lahan gambut dengan ketebalan 1 m tergolong lahan sesuai marginal (kelas kesesuaian S3), lahan gambut dengan ketebalan 2 m secara umum tidak sesuai untuk tanaman tahunan kecuali jika ada penambahan tanah mineral, dan lahan gambut dengan ketebalan lebih dari 3 m digunakan sebagai lahan konservasi.

Penggunaan lahan gambut dengan ketebalan 1 m dan 2 m hanya dapat digunakan untuk penanaman tanaman tahunan kecuali setelah dilakukan perlakuan tertentu seperti: penambahan tanah mineral dan pembuatan drainase (untuk menurunkan tinggi permukaan air). Semua perlakuan tersebut sedikit demi sedikit dapat mengubah kondisi dan fungsi gambut sebagai penyangga lingkungan.

Pemanfaatan lahan gambut secara besar-besaran dan tidak sesuai sebagai lahan pertanian, dapat mengakibatkan terjadinya degradasi lahan. Setelah lahan gambut terdegradasi, lahan tersebut menjadi lahan tidur atau lahan mati (Bintoro et al., 2010). Drainase yang berlebihan dapat mengubah total kawasan gambut, bahkan dapat menyebabkan terjadinya kebakaran. Selain itu juga dapat menurunkan kadar air gambut; meningkatkan kemasaman tanah sehingga menurunkan produktifitas tanaman dan ikan (Noor, 2001 dalam Bintoro et al., 2010); dan menghasilkan emisi CO2 yang cukup tinggi sehingga dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan.

Peningkatan emisi CO2 dan CH4 akan meningkatkan pemanasan global. Hal ini telah dibuktikan dalam 100 tahun terakhir suhu atmosfer bumi meningkat sebesar 0.5 oC (Bintoro et al., 2010). Apabila proses tersebut terus berlangsung, maka dalam 30 tahun yang akan datang akan terjadi peningkatan suhu permukaan bumi sebesar 3 oC.

Tabel 2. Emisi CO2 dan CH4 dari Hutan Gambut (Ridley et al., 2008 dalam Bintoro et al., 2010)

Penggunaan

Kadar Emisi

CO2

CH4

……………ton/ha/tahun……………

Tidak Didrainase

38.90

0.014

Didrainase

40.00

0.013

Hutan Sekunder

34.00

0.001

Lahan Pertanian

19.30

0.001

Sagu

 

            Sagu (Metroxylon spp.) termasuk tumbuhan monokotil. Tanaman sagu termasuk dalam ordo Spadiciflora, famili Palmae, genus Metroxylon, dan spesies Metroxylon spp. Tanaman ini merupakan tanaman asli Indonesia dan banyak (lebih dari 50%) ditemui di Papua (Bintoro et al., 2010).

Indonesia memiliki areal pertanaman atau hutan sagu terluas serta diversitas genetik terbesar di dunia (Bintoro et al., 2010). Namun demikian perhatian terhadap tanaman sagu masih sangat kurang, hal ini ditandai dengan luas tanaman sagu yang belum diketahui secara pasti. Namun, menurut Manan (1984) dalam Bintoro et al. (2010) luasan lahan sagu di Indonesia adalah 4.1833 juta hektar. Menurut Haryanto dan Pangloli (1992) dalam Bintoro et al. (2010) berdasarkan laporan tentang luas lahan dan produktifitas sagu per pohon, potensi sagu di Indonesia diperkirakan sekitar 5 juta ton per tahun.

 

Sagu sebagai Bahan Pangan

 

            Pati sagu merupakan bahan pangan yang potensial, yang dapat menghasilkan karbohidrat dengan jumlah yang sangat banyak. Bintoro (2000) dalam Bintoro et al. (2010) menyatakan pati sagu dapat digunakan sebagai makanan pokok, bahan baku makanan ringan (empek-empek, bakso, onde-onde, dodol, dan cendol), dan bahan baku untuk beberapa industri makanan. Selain di Indonesia, Malaysia pun sudah memanfaatkan pati sagu sebagai bahan baku makanan seperti yang tercantum pada tabel 3.

Tabel 3. Pemanfaatan Pati Sagu Tahunan di Malaysia (Bujang dan Ahmad, 2000 dalam Bintoro et al., 2010)

Jenis Pemanfaatan

Jumlah Pemanfaatan (ribu ton)

Gula Cair

15.6

Monosodium Glutamat

15.0

Mie

13.2

Karamel

7.8

Sagu Mutiara

6.0

Kue (Cracker)

3.6

Bintoro et al. (2010) menjelaskan bahwa kebutuhan beras di Indonesia saat ini sekitar 30.2 juta ton/tahun untuk jumlah penduduk sekitar 229 juta jiwa, hal ini berarti konsumsi beras orang Indonesia sekitar 132 kg/kapita/tahun. Apabila pertumbuhan populasi penduduk Indonesia sebesar 2% per tahun maka pada tahun 2025 penduduk Indonesia akan meningkat menjadi 300 juta jiwa. Apabila produksi beras tidak meningkat maka pada tahun 2025 kekurangan beras akan sebanyak 18 juta ton.

Untuk menyikapi hal tersebut perlu dicari tanaman sumber karbohidrat lain, dalam hal ini adalah sagu. Bintoro et al. (2010) juga menjelaskan bahwa sagu menghasilkan 200-400 kg pati/pohon, bahkan ada yang menghasilkan 800 kg pati/pohon. Apabila penanaman sagu dilakukan secara intensif dengan populasi sekitar 100-200 pohon/ha yang tiap pohon diasumsikan menghasilkan 300 kg pati, maka dalam satu hektar tanaman sagu akan diperoleh 30-60 ton pati. Dengan demikian, untuk memenuhi kalori 200 juta penduduk Indonesia hanya dibutuhkan satu hektar tanaman sagu.

 

Sagu sebagai Pakan

 

Selain dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan potensial sagu juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak. Bintoro (2000) dalam Bintoro et al. (2010) dalam keterangannya juga menyebutkan kegunaan sagu selain sebagai sumber pangan pokok, juga sebagai bahan baku pakan ikan maupun ternak.

Produk turunan sagu yang sangat berpotensi dikembangkan dan yang saat ini banyak digunakan sebagai pakan ternak adalah single cell protein. Selain itu, hama sagu (ulat sagu) juga sering diburu petani untuk dijadikan makanan maupun pakan ternak dan ikan.

 

Energi

 

Sama halnya dengan sumber pati yang lain, sagu berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi. Negara-negara yang tidak memiliki minyak dan gas bumi telah banyak mengembangkan etanol. Etanol dapat digunakan sebagai pengganti minyak bumi dan gas alam. Bahan energi tersebut dapat diproduksi dari asam-asam organik turunan glukosa. Menurut Bintoro et al. (2010) saat ini bahan baku pembuat etanol berupa tapioka yang berasal dari ubi kayu yang kemungkin-an besar akan habis.

Secara keseluruhan, seluruh bagian sagu dapat dimanfaatkan sebagai sumber glukosa, dan juga dapat diubah menjadi etanol. Namun yang saat ini digunakan sebagai bahan baku etanol adalah pati sagu. Secara teoritis satu ton pati sagu dapat menghasilkan 715.19 liter alkohol (Baker, 1980 dalam Haryanto dan Pangloli, 1992 dalam Bintoro, 2010).

 

Lingkungan

 

Pengaman Lingkungan dan Konservasi Air

 

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, lahan gambut yang telah diubah peruntukannya, baik yang diubah menjadi lahan tanaman tahunan maupun tanaman pangan, menghasilkan CO2 dan CH4 yang lebih tinggi daripada lahan gambut yang masih alami. Kerusakan yang lebih besar akan terjadi apabila lahan gambut dibuat drainase sehingga menurunkan permukaan air tanah. Pembuatan drainase memang mutlak dibutuhkan jika lahan gambut ditanami tanaman-tanaman tahunan seperti kelapa sawit yang membutuhkan lahan dengan permukaan air tanah yang tidak terlalu tinggi.

Tanaman tahunan sebagian besar memang membutuhkan lahan dengan air tanah yang dalam, namun ada sebagian tanaman yang bahkan dapat tumbuh optimal pada lahan dengan air tanah yang dangkal, misalnya tanaman sagu. Selain dapat tumbuh, tanaman sagu juga mampu menyerap CO2 yang cukup banyak sehingga dapat mengimbangi CO2 yang dihasilkan oleh lahan gambut.

 

TabeL 4. Kemampuan Serapan CO2 Beberapa Tanaman Penghasil Karbohidrat (BPPT, 2008 dalam Bintoro, 2010)

Tanaman

Panen  / Tahun Rata-rata

Rata-rata Hari Efektif / Siklus

Lama Penyinaran (jam)

Laju Fotosintesis CO2/ m2/ hari (mg)

Luas Daun (juta ha)

CO2 Terserap (ton/ ha/ tahun)

Sagu

1.0

165

12

22

3

289

Jagung

2.5

45

13

80

2

216

Padi

2.5

45

14

30

2

81

Ubi Kayu

1.0

180

15

39

2

168

Tebu

1.0

180

16

52

2

225

Ubi Jalar

2.0

80

17

23

3

88

 

Bintoro et al. (2010) menjelaskan bahwa tanaman sagu dapat mengabsorb-si emisi gas CO2 dan NH4 sebesar 25-200 mg/m2/jam. Nilai rata-rata laju fotosintesis tanaman sagu sebesar 22 mg CO2/dm2/jam. Berdasarkan perhitungan, jumlah CO2 yang dapat diserap oleh tanaman sagu sebesar 240 ton CO2/ha/tahun, sehingga Indonesia yang memiliki luas lahan sagu sebesar 1.4 juta ha mampu menyerap CO2 sebesar 330 juta ton CO2 per tahun.

Selain itu, karena tanaman sagu sangat suka air tanah yang dangkal, lahan gambut yang ditanami sagu tidak membutuhkan drainase yang berlebihan. Hal ini membuat tinggi permukaan air lahan gambut tetap terjaga sehingga tidak mengakibatkan penurunan permukaan gambut.

 

Biodegradable Plastic

 

Pada awalnya, semua plastik diproduksi dari sari minyak bumi yang tidak dapat diurai oleh mikroorganisme tanah. Karena itu, plastik dari minyak bumi dapat merusak dan menjadi polutan bagi lingkungan. Untuk itu banyak dilakukan penelitian untuk mencari bahan baku pembuat plastik yang dapat diurai. Sebagai bahan baku industri non-pangan pati sagu dapat digunakan seba-gai polilaktat, yaitu bahan untuk pembuatan plastik yang dapat terurai (biodegradable).

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bintoro, M.H., M.Y.J. Purwanto, S. Amarillis.  2010.  Sagu di Lahan Gambut.  IPB Press.  Bogor.  169 hal.

DOWNLOAD FILE HERE:
Page 1
Page 2
Page 3

BEST QUALITY PICTURES :
Page 1
Page 2
Page 3

Yoga Setiawan on Sagu (metroxylon) untuk Pangan, pakan dan energi