Wasir/Ambeien dan Makanan Berserat

Wasir (hemorrhoid) atau biasa disebut ambeien adalah terjadinya pelebaran pembuluh darah balik dan pembengkakan jaringan sekitarnya di daerah dubur/anus (Sugiharto, 2002). Penyakit ini banyak diderita oleh orang dewasa. Sugiharto menyatakan bahwa secara anatomis wasir terjadi akibat sumbatan pada pembuluh darah balik hingga terjadi perubahan dan pembengkakan pada bantalan pembuluh darah di daerah dubur. Ada beberapa faktor yang saling memengaruhi terjadinya wasir antara lain faktor keturunan, tekanan di dalam perut yang terlalu besar, kehamilan, jenis pekerjaan, kurang makanan yang mengandung serat, dan lain-lain. Faktor ini tidak berdiri sendiri tetapi saling melengkapi satu sama lain. Konsumsi serat makanan yang tidak larut air lebih ditingkatkan, ini membantu feses tetap lunak dan bervolume besar, sehingga dapat mengurangi tekanan pada anus (Sulistijani, 2002).

Serat dibagi menjadi dua menurut karekteristik fisik dan pengaruhnya terhadap tubuh, yaitu serat larut dalam air (soluble fiber) dan serat tidak larut dalam air (insoluble fiber). Sifat kelarutan ini sangat menentukan proses fisiologi serat pada proses di dalam pencernaan dan metabolisme zat gizi (Sulistijani, 2002).

Serat larut dalam air (soluble fiber) yaitu serat yang larut dalam air dan juga dalam saluran pencernaan serta dapat membentuk gel dengan cara menyerap air. Yang termasuk di dalamnya ialah mucilage, gum, dan pektin (Wirakusumah, 2003). Serat jenis ini akan membentuk gel sehingga isi lambung penuh dan menyebabkan cepat kenyang karena volume makanan menjadi besar. Serat ini berfungsi menurunkan kolesterol (Larsheslet, 1997).

Serat tidak larut air (insoluble fiber) yaitu serat yang tidak dapat larut dalam air dan juga dalam saluran pencernaan, memiliki kemampuan menyerap air dan meningkatkan tekstur dan volume tinja sehingga makanan dapat melewati usus besar dengan cepat dan mudah (Wirakusumah, 2003). Yang tergolong dalam serat tidak larut adalah selulosa (Wirakusumah, 2003), hemiselulosa, dan lignin (Boeckner, 1995).

Sebagian serat makanan bersumber dari pangan nabati. Serat tersebut berasal dari dinding sel berbagai jenis buah, sayur, umbi, serealia, dan kacang-kacangan. Serat makanan yang larut dalam air terdapat pada semua buah-buahan, beberapa biji-bijian dan beberapa polong-polongan. Serat tipe ini berperan menangkap materi lemak pada bahan pangan yang sedang dicerna sehingga lemak terhalang penyerapannya ke dalam tubuh. Serat jenis ini juga memiliki manfaat positif terhadap gula darah.

Serat makanan tidak larut dalam air yaitu selulosa, hemiselulosa dan lignin. Selulosa sebagai serat makanan, banyak ditemui pada bagian jenis sayuran. Hemiselulosa merupakan jenis serat yang  terdapat pada dinding sel sayur-sayuran, buah-buahan, biji-bijian dan kacang-kacangan. Lignin banyak terdapat pada sayur-sayuran dan biji-bijian (Wirakusumah, 2003).

Jahari dan Sumarno (2001) mengemukakan bahwa bahan makanan penyumbang terbesar serat adalah dari golongan serealia, terutama beras giling dan jagung. Dari rata-rata konsumsi sebesar 10.5 g/orang/hari, 2.1 g diantaranya disumbangkan oleh beras giling dan 1.1 g oleh jagung. Bahan makanan penyumbang serat selain dari golongan serealia adalah dari golongan buah/biji berminyak sebesar 1.6 g kacang-kacangan 1.2 g, sayur-sayuran 1.2 g,  dan buah-buahan sebesar 0.9 g.

Pustaka

Boeckner, L. 1995. Dietary fiber. http://ianpubs.unl.edu/foods/nf62.htm.

Jahari, A.B dan Sumarno. 2001. Epidemologi konsumsi serat di Indonesia. Gizi Indonesia Volume XXV. Persatuan Ahli Gizi Indonesia. Bogor.

Larsheslet. 1997. Kolesterol yang Perlu Anda Ketahui (Penerjemah: Anton Adiwoyoto). Megapoin. Jakarta

Wirakusumah, E.S. 2003. Buah dan Sayur untuk Terapi. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sugiharto, S. 2002. Wasir dan Pengobatannya. http://www.pikiranrakyat.com/cetak/0903/hikmah/lainnya03.html.

Sulistijani, A.D. 2002. Sehat dan Menu Berserat. Trubus Agriwijaya. Jakarta.