" />

Tag Archive: jagung semi

Baby Corn (Miles Carol A., Leslie Zenz, and Gayle Alleman).pdf
Baby Corn (Milez Carol A. and Leslie Zenz).pdf

Baby Corn (Zheng Wang).pdf

Evaluasi dan Seleksi Delapan Genotipe Jagung ke Arah Pembentukan Jagung Semi (Baby corn) Bertongkol Banyak.pdf

Produksi Jagung Manis (Zea mays L. Saccharata) yang Diperlakukan dengan Kompos Kascing dengan Dosis yang Berbeda.pdf
Size and Carbohydrate Content of Ears of Baby Corn in Relation to Endosperm Type (Su, su, se, sh2).pdf
Keragaan Karakter Agronomi Beberapa Varietas Jagung (Zea mays L.) dalam Produksi Jagung Semi.pdf
Evaluasi dan Seleksi 24 Genotipe Jagung Lokal dan Introduksi yang Ditanam sebagai Jagung Semi.pdf

Marketing Standards for Baby Corn.pdf

Multiple Ear Effect on Yield of Maize Varieties under Tropical Wet and Dry Season COndition.pdf

Pengaruh Dosis Pupuk Nitrogen dan Waktu Panen Terhadap Produksi dan Kualitas Jagung Semi di Dataran Tinggi.pdf

Performance of a Prolific and Non-Prolific Corn Hybrid in Central North Dakota.pdf
Potensi Beberapa Varietas Jagung (Zea mays L.) Sebagai Jagung Semi (Baby Corn).pdf
Potensi Beberapa Varietas Jagung untuk Dikembangkan sebagai Varietas Jagung Semi.pdf

 

Yoga Setiawan in Literatur-literatur Jagung Semi

Baby Corn, Jagung Semi, Jagung Mini Jagung semi atau jagung mini atau Baby corn  adalah jagung biasa yang dipanen saat tongkol jagung masih muda atau belum dewasa (Miles, et al. 1999), belum terbentuk biji (Yudiwanti, et al. 2010), dan biasanya dipanen antara dua atau tiga hari setelah munculnya rambut (Zheng, 2011).

Di Asia, jagung semi sangat populer sebagai sayuran yang dapat dimakan mentah (raw) maupun masak (cooked). Rasanya manis dan teksturnya sukulen. Banyak orang mengira, jagung semi yang ada di pasaran saat ini diproduksi dengan menggunakan varietas khusus jagung semi (Zheng, 2011). Padahal tidak demikian, sebagian besar varietas jagung semi yang ada di pasaran (khususnya di Indonesia) masih menggunakan varietas jagung pipil biasa (Yudiwanti, et al. 2010).

 

————– kutipan yang berupa tautan dapat diklik —————

Yoga Setiawan on Jagung Semi (baby corn)

Ini dia foto-foto masakan yang berbahan dasar Jagung Semi atau (Baby Corn)… Hmm….Lezatnyoo…

Masakan Jagung semi baby corn zea maysMasakan Jagung semi baby corn zea maysMasakan Jagung semi baby corn zea maysMasakan Jagung semi baby corn zea mays

Yoga Setiawan on Masakan dari Jagung Semi

KUTIPAN

  1. Hasil penelitian Sepriliyana (2010) menunjukkan bahwa genotipe Kiran (3.67 tongkol) memiliki jumlah tongkol per tanaman yang nyata lebih banyak di-banding varietas hibrida BISI-2 (2.87 tongkol), sedangkan genotipe Antasena (2.47 tongkol) dan Kiran (3.67 tongkol) nyata memiliki jumlah tongkol lebih banyak dibandingkan rata-rata jumlah tongkol genotipe lokal.

  2. Wych (1988) menyatakan bahwa pembuangan bunga jantan (detasseling) da-pat meningkatkan hasil produksi karena dapat menurunkan naungan daun ba-gian atas dan juga mengurangi kompetisi fotosintat dan nutrisi antara tongkol dan bunga jantan (tassel).

  3. Poehlman (1959) menyatakan bahwa jagung memiliki banyak karakter resesif yang dapat muncul melalui silang dalam (inbreeding).

  4. Hasil penelitian Ki-Jin et al. (2002) menunjukkan bahwa “Dumechal”, yaitu jagung hibrida terbaru terhasil persilangan yang dikembangkan oleh Maize Experiment Station (MES) of Gangwondo Agriculture Research and Exten-sion Service (Gares) di Hongcheon, dapat menghasilkan 6 164 tongkol per 10a.

  5. Puslitbangtan (1993) menyatakan bahwa varietas Antasena adalah varietas ja-gung bersari bebas dengan biji berwarna kuning dan berpotensi hasil rata-rata 5-6 ton per hektar. Read More »